Mengapa UMKM?

Pemberdayaan usaha kecil menengah lewat inkubator bisnis
Realitas membuktikan bahwa sejak terjadinya krisis ekonomi, sektor usaha kecil dan menegah (UKM) mampu bertahan bahkan menjadi penyelamat perekonomian nasional. UKM yang saat ini jumlahnya diperkirakan 40,19 juta unit usha memberi kontribusi yang sangat signifikan terhadap Produk domestik bruto (PDB). Pada tahun 2001 diperkirakan UKM memberi kontribusi terhadap PDB sebesar 54,74%.
Melihat tangguhnya kiprah UKM dalam perekonomian nasional tersebut membuat lembaga keuangan (perbankan) berlomba menyalurkan kreditnya ke sektor usaha tersebut.
Perbankan nasional, tahun ini siap mengucurkan kredit ke UKM hingga Rp42,3 triliun atau lebih 50% dari total nilai ekspansi kredit perbankan 2003. Sementara Departemen Keuangan berjanji menyalurkan Rp3 triliun sedangkan Asian Development Bank (ADB) pun siap mengucurkan pinjaman US$85 juta pada tahun 2003 dan US$150 juta pada tahun 2004).
Namun demikian, yang perlu dipikirkan apakah alokasi kredit UKM tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik oleh UKM?
Agar fasilitas kredit UKM itu secara optimal bisa menjadi ‘alat’  emberdayaan UKM dan sekaligus dapat menjadi lokomotif pemulihan ekonomi nasional maka bimbingan manajerial pun harus diberikan secara memadai.
Strategi ini perlu dilakukan mengingat masih banyak UKM yang dalam menjalankan aktivitas bisnisnya tidak menerapkan prinsip-prinsip manajemen. Apalagi saat ini, dengan berlakunya era Asean Free Trade Area (AFTA), tentunya usaha kecil menengah pun dituntut untuk siap menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat.
Selain itu bimbingan manajerial juga perlu dilakukan sebagai upaya memperkecil risiko kredit macet akibat adanya mismanagement yang dilakukan UKM. Karena itu peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk merintis upaya tersebut.
Dalam hal pemberdayaan UKM, Indonesia bisa belajar ke Cina. Keberhasilan Negeri Tirai bambu itu dalam mengembangkan bisnis UKM tidak terlepas dari keberadaan inkubator bisnis. Inkubator bisnis di Cina terbilang sangat berkembang dan mendapat perhatian besar dari pemerintahnya.
Cina memulai program inkubator bisnisnya pada 1987 dengan hanya membentuk tiga unit inkubator tapi saat ini negara itu memiliki lebih dari 40 inkubator yang tersebar merata hampir ke seluruh pelosok negeri.
Kiprah ikubator tersebut tak pelak juga sukses menyumbang pajak. Pada 1994 saja tercatat US$155 juta mampu dihasilkan oleh para tenant (UKM binaan inkubator), padahal pada tahun tersebut pemerintah Cina hanya berinvestasi US$60 juta.
Memang, omzet tersebut tidak sepenuhnya dirasakan pemerintah tapi pemasukan pajak dari program inkubator ini akan terus dinikmati tiap tahunnya.
Dampak lain yang dapat dinikmati dengan berkembangnya inkubator bisnis di Cina adalah dengan terserapnya sejumlah tenaga kerja ke bidang tersebut. Dari data yang diperoleh, pada 1994 tercatat hampir 900 TK terangkul menjadi karyawan inkubator.
Belum lagi sekitar 10.000 orang mampu terserap dalam perusahaan yang dikelola oleh para tenant binaan inkubator tersebut.
Inkubator internasional Pemerintah Cina mempunyai komitmen yang tinggi terhadap pengembangan inkubator bisnis yang terbukti memang menguntungkan banyak pihak. Salah satu bentuk komitmen pemerintah tersebut adalah dengan melakukan investasi untuk membangun inkubator bisnis interna sional.
Mulai 1998 sampai saat ini tercatat ada delapan inkubator bisnis internasional yang dibangun oleh pemerintah Cina. Inkubator ini merupakan lembaga di mana tenant yang berada di dalamnya berasal dari negara lain di mana biasanya sudah mempunyai produk tertentu yang akan dipasarkan di Cina.
Ciri khusus dari inkubator jenis ini adalah pada perangkat fasilitas yang digunakan, di mana hampir keseluruhan menggunakan teknologi tinggi. Pemerintah Cina mengeluarkan investasi yang besar untuk membangun inkubator bisnisnya. Untuk satu inkubator internasional, luas lahan yang disediakan mencapai hampir 10.000 m2 dengan nilai investasi mencapai US$1 juta-US$3 juta untuk sebuah inkubator internasional. Selain itu dari setiap inkubator -baik skala kecil maupun besar-selalu dikelola oleh profesional yang secara total mengelola inkubator bersangkutan. Hingga
wajar bila tenant teladan (dari inkubator sekelas Pusat Inkubator Agrobisnis dan Agroindustri (PIAA) milik IPB) di Cina mampu meraup omzet sekitar lima miliar rupiah per tahunnya.
Di Indonesia sendiri sebenarnya antara 1995-1998, inkubator bisnis yang dimiliki beberapa perguruan tinggi terbilang mengalami perkembangan yang cukup baik tapi datangnya krisis menyebabkan program ini agak meredup.
Namun demikian, belajar dari keberhasilan Cina, adalah suatu langkah yang tepat bila pemerintah kembali melakukan program pengembangan UKM melalui inkubator bisnis.
Di saat adanya komitmen perbankan nasional untuk memajukan UKM,
mengoptimalkan peran inkubator- inkubator bisnis yang bertebaran di berbagai penjuru tanah air adalah suatu langkah strategis.
Untuk itu pemerintah bisa menjadi ‘jembatan penghubung’ antara pihak perbankan (terutama bank BUMN) dengan inkubator- inkubator bisnis (yang mayoritas dimiliki perguruan tinggi negeri) agar terjalin kerja sama
Dengan begitu nantinya, usaha kecil menengah tidak hanya mendapat bantuan modal melainkan juga bimbingan manajerial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: